Mata Kuliah Pemasaran Pertanian merupaka mata kuliah wajib dengan bobot 2 (dua) sks. Mata Kuliah Pemasaran Pertanian didistribusikan pada semester gasal dengan tujuan agar para mahasiswa memiliki penguasaan konsep dan teori pemasaran yang diterapkan pada produk pertanian. Materi kuliah terdiri atas Efisiensi Pemasaran; Integrasi Pasar; Nilai Tambah, Rantai Nilai; Supply Chain Manajemen (SCM), Stricture Conduct and Performance, Minimalisasi Biaya Transportasi

Mata Kuliah Ekonomi Makro II disusun dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan menganalisa persoalan-persoalan  ekonomi secara agregat. Ruang lingkup materi yang diberikan antara lain: Pendekatan dalam mempelajari ekonomi makro, permasalahan dalam ekonomi makro, pelaku ekonomi dan pasar, perhitungan pendapatan nasional, teori konsumsi, teori investasi, keseimbangan ekonomi, kebijakan fiskal dan moneter dalam ekonomi tertutup, kebijakan fiskal dan moneter dalam ekonomi terbuka, inflasi dan pengangguran, perdagangan internasional, neraca pembayaran, stabilitas nilai tukar

PENYAKIT TANAMAN : adalah proses dimana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya sebaik-baiknya.
 
TUMBUHAN DAPAT DITINJAU DARI DUA SEGI:
 
A. SEGI BIOLOGI : adalah organisme yang melakukan kegiatan fisiologi, sehingga dari segi ini penyakit tanaman  adalah penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tumbuhan tidak dapat melakukan kegiatan fisiologi seperti biasanya.
 
 B. SEGI EKONOMI : adalah penghasil bahan-bahan yang berguna bagi manusia, sehingga dari segi ini penyakit tanaman  adalah ketidak mampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup mutu dan atau jumlahnya bagi manusia.
 
CONTOH :
 Kelapa kopyor dan bunga tulip dari segi biologi adalah sakit, sedang
dari segi ekonomi adalah tidak, karena harganya mahal.    

 Pembangunan pertanian selama masa orde baru lebih diprioritaskan pada pengembangan pertanian lahan sawah (sebagian besar terdapat di Pulau Jawa), dan mengesampingkan pengembangan potensi lahan kering yang sangat luas (sebagian besar terdapat di luar Pulau Jawa, terutama Kawasan Timur Indonesia). Akibatnya terjadi ketimpangan perkembangan pembangunan pertanian antar wilayah dan ketimpangan kesejahteraan antar penguna lahan sawah dan lahan kering. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, maka pembangunan pertanian pada saat ini dan di masa mendatang perlu diprioritaskan pada pengembangan pertanian lahan kering. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa  potensi  lahan kering dan lingkungannya (disebut wilayah lahan kering) yang sangat luas (67 juta hektar) dan belum dimanfaatkan secara optimal, sedang di sisi lain kemampuan lahan sawah dalam menghasilkan produksi, pendapatan dan penyerapan tenaga kerja sudah  semakin terbatas.

Seiring dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang “Pemerintahan Daerah” sejak Januari 2001, dan kemudian direvisi UU Nomor 32 2004, maka setiap Pemerintah Kabupaten/Kota yang secara bersama-saama dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi, dituntut untuk mampu  menganalisis keunggulan komparatif (comparative adventages) wilayahnya, terutama potensi sumberdaya lahan dan lingkungannya sebagai basis  pembangunan pertanian. Keunggulan komparatif wilayah tersebut untuk selanjutnya harus dapat direncanakan secara terarah dan terpadu, serta dikembangkan secara optimal, sehingga tercipta kegiatan-kegiatan pembangunan yang mampu mempercepat pengembangan ekonomi wilayah, memperluas kesempatan kerja dan berusaha, serta sekaligus memberikan insentif ekonomi yang menguntungkan bagi berbagai kelompok pelaku ekonomi.

            Sebagai salah satu contoh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempunyai keunggulan komparatif  berupa potensi wilayah lahan kering yang cukup luas dan berpeluang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian guna meningkatkan kesejahteraan sebagian terbesar masyarakat, terutama petani lahan kering. Data dari Biro Pusat Statistik Provinsi NTB (2002) menunjukkan bahwa dari wilayah Provinsi NTB seluas 2.015.314,572 hektar, sebagian besar berupa potensi lahan kering dengan berbagai jenis penggunaannya untuk pertanian dan non pertanian (1.673.476,307 ha atau 83,04 %), sedang sisanya berupa lahan sawah dan penggunaan lain-lainnya (16,96 %).

Dari berbagai hasil penelitian diketahui bahwa pemanfaatan dan pengembangan wilayah lahan kering baik yang ada di Provinsi NTB maupun provinsi lain di Indonesia dari tahun ke tahun belum memberikan hasil yang memuaskan karena adanya berbagai kendala, baik fisik, ekonomi maupun sosial-kelembagaan. Berbagai kendala tersebut diantaranya: (1) biofisik dan tofografi lahan kering tidak sebaik lahan sawah, (2) infrastruktur ekonomi di wilayah lahan kering sangat terbatas, (3) teknologi usahatani lahan kering relatif mahal bagi petani, (4) kualitas lahan dan penerapan teknologi yang terbatas, (4) kemampunan Pemerintah Daerah dan masyakarat dalam perencanaan, pelaksanaaan dan pembiayaan pengembangan wilayah lahan kering sangat terbatas, dan (5) partisipasi pengusaha swasta dalam pengembangan lahan kering relatif terbatas. Akibatnya percepatan pengembangan ekonomi wilayah dan kesejahteraan hidup masyarakat di wilayah lahan kering masih relatif terbatas (Suwardji et al., 2003).

Kondisi tersebut di atas memberikan gambaran bahwa untuk pemanfaatan dan pengembangan potensi wilayah lahan kering, diperlukan adanya terobosan investasi maupun peningkatan partisipasi masyarakat yang berbasis pada teknologi sepadan (appropriate technology) dalam mengembangkan wilayah lahan kering, sehingga wilayah lahan kering bukan lagi menjadi hambatan tetapi merupakan harapan besar ke depan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Agar keunggulan komparatif wilayah lahan kering tersebut dapat dikelola secara efisien, efektif dan optimal serta dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi pengembangan ekonomi wilayah dan bangsa serta peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat, maka deperlukan perencanaan yang baik serta penyusunan program yang terencana dan terarah serta terintegrasi yang berbasis pada teknologi sepadan dengan melibatkan berbagai pihak (multistakeholders) untuk mencapai tujuan tersebut.

Mata Kuliah Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering secara ringkas ini membahas berbagai aspek dalam pengelolaan sumber daya wilayah lahan kering yang yang mencakup (1) Pendahuluan tentang pentingnya upaya pengelolaan lahan kering. (2) Batasan dan Konsep dalam Pengembangan Wilayah Lahan Kering yang berisi berbagai pengertian dan difinisi tentang lahan kering dan berbagai konsep dasar dalam pengembangan wilayah, serta konsep dasar dalam pengembangan lahan kering yang berkelanjutan. (3) Kebijakan, Potensi dan Prospek dalam Pengembangan Lahan Kering, yang membahas berbagai kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan lahan kering, potensi lahan kering di Indonesia dan prospek masa depan dalam pengembangan lahan kering di Indonesia. (4) Mengembangkan Skenario Pengembangan Pertanian Lahan Kering yang Berkelanjutan. (5) Pengelolaan Lengas Tanah (Soil moisture) yang berisi berbagai pengertian tentang lengas tanah, faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika lengas tanah, cara mengukur lengas tanah. (6) Pengelolaan Tanah dan Tanaman untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Air Hujan. Disamping itu dibahas berbagai teknik pengelolaan tanah dan tanaman dalam upaya untuk meningkatkan ketersediaan air dan efisiensi penggunaannya untuk mengoptimalkan produksi tanaman. Bab 7 berisi Peran Organisme Tanah dalam Dinamika Unsur Hara pada Ekosistem Lahan Kering. Bab 8 berisi Memahami Prinsip-Prinsip Dasar Sistem Pertanian Berkelanjutan dalam Pembangungan Pertanian di Daerah Tropis dengan Belajar dari Pengalaman Amerika Latin. Bab 9 membahas Pentingnya Rotasi Tanaman dalam Mengembangkan Sistem Pertanian Lahan Kering yang Berkelanjutan. Bab 10 berisi Mengembangkan Sistem Pertanian dengan Masukan Rendah (Low Input Agriculture) untuk Sistem Pertanian Lahan Kering yang Berkelanjutan. Bab 11. berisi Olah Tanah Konservasi Merupakan Sistem Pertanian Yang Menyeluruh. Bab 12. berisi Kebutuhan Teknologi untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Provinsi NTB. Bab 13. berisi Potensi Penggunaan Alelopaty untuk Pengelolaan Gulma pada Ekosistem Lahan Kering dan Bab. 14. berisi Pemantauan Terhadap Berfungsinya Ekosistem pada Pertanian Lahan Kering.


Mata Kuliah Budidaya Tanaman Lahan Kering adalah Mata Kuliah wajib bagi Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering, Minat Budidaya Tanaman. Kuliah memuat 3 SKS tanpa praktikum.

Setelah mengikuti kuliah ini melalui serangkaian tatap muka di kelas, penugasan secara offline maupun online serta menyelesaikan quiz dan latihan yang diberikan oleh masing-masing dosen, mahasiswa diharapkan mampu merancang strategi pengelolaan lahan kering berdasarkan karakteristik lingkungan lokal untuk mengasilkan sistem budidaya tanaman di lahan kering secara berkelanjutan